Miiliki peran Srategis

Persahabatan Berbasis Iman

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

    PERSAHABATAN  dalam Islam dikenal dengan istilah al-ikhwah (الإِخْوَةٌ) dan ukhuwwah (الأُخُوَّةُ) yang secara bahasa kerap diartikan dengan hubungan kekerabatan. Kata ini berasal dari kata akhun (أَخٌ) yang memiliki makna persaudaraan, pertemanan dan persahabatan. Namun, seiring waktu kata tersebut mengalami perluasan makna yang kemudian acapkali dipahami dengan persahabatan iman, yaitu sebuah ikatan yang tidak hanya disekat oleh hubungan darah. Setiap orang yang menjadikan Allah Subhanallah Waatala sebagai Tuhannya dan menyakini semua yang diturunkan maka memiliki ikatan yang kuat (mîtsâqon ghalîza).

Hubungan persahabatan bukan sekedar relasi sosial, tetapi sebuah ikatan yang dibangun di atas dengan nilai-nilai spiritual. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam memberi atensi besar dalam memilih sahabat, sebab secara tidak langsung kehadiran mereka dapat membawa dampak baik dan buruk bagi kehidupan seseorang.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

 اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mengikuti perilaku orang yang sering bergaul dengannya, maka hendaknya setiap orang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia bergaul. (HR Ahmad)

Sebuah pergaulan akan membentuk karakter, pola pikir, perilaku dan bahkan bisa mempengaruhi kepercayaan seseorang. Para pujangga berkata:

رَأَيْتُ صَلَاحَ الْمَرْءِ يُصْلِحُ أَهْلَهُ، وَيُعْدِيهِمُ الْفَسَادُ إِذَا فَسَدَ

Saya melihat perilaku baik seseorang dapat berdampak pada keluarganya, dan keruaskan dirinya akan menular apabila ia berbuat rusak. (Habibul Bashri Al-Mawrdi, Kitâbuddunyâ waddîn, hlm 77).

Penggalan bait syair di atas sebuah barometer dalam mengukur kualitas diri seseorang, di mana pengaruh bagi lingkungan terdekatnya, terutama keluarga akan memberi pengaruh besar. Ketika ia baik, kebaikan itu akan menyebar dan membawa perbaikan bagi orang lain. Sebaliknya, kerusakan dalam dirinya juga dapat menular dan merusak lingkungan sekitarnya.

Dalam kehidupan yang serba kompleks, bersahabat yang diikat dengan nilai-nilai keimanan sangat penting. Sebab kehadiran mereka tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi menjadi solusi dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi. Di samping itu, nasihat-nasihat bijak yang keluar dari ucapan-ucapannya membimbing ke jalan yang benar.

Al-Qur’an Al-Karim secara tegas menyatakan persahabat yang dibangun di atas nilai-nilai ketakwaan akan dibawa hingga ke akhirat kelak.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. Az-Zukhruf: 67)

Ayat menitik beratkan bawah  apapun bentuk persahabatan yang tidak dilandasi ketakwaan akan berakhir dengan penyesalan dan permusuhan di akhirat. Hanya hubungan yang dibangun atas dasar iman dan ketakwaan yang akan tetap langgeng, membawa manfaat, dan menjadi sebab keselamatan. Oleh karena itu, persahabatan sejati adalah persahabatan yang mengarahkan kepada kebaikan, saling menguatkan dalam ketaatan, serta mendekatkan kepada Allah Swt. Seorang ahli sufi asal Mesir dalam karya fenomenalnya Al-Hikam pernah berkata:

لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يَنْهَضُكَ حَالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللَّهِ مَقَالُهُ

Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan (semangat) dirimu, dan yang ucapannya tidak menunjukkanmu kepada Allah. (Al-Hikam, bait syair yang ke 47)

Persahabatan yang ideal adalah yang mampu mengangkat kualitas diri, baik secara moral maupun spiritual. Sahabat sejati bukan hanya hadir sebagai teman berbagi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi yang membangkitkan semangat kebaikan dan mengarahkan hati kepada Allah Subhanahu Waatala. Sebaliknya, menjalin hubungan dengan orang yang tidak memberi pengaruh positif justru berpotensi melemahkan iman dan menjauhkan dari tujuan hidup yang hakiki. Oleh karena itu, selektif dalam memilih sahabat merupakan bagian penting dalam menjaga keimanan dan membangun kehidupan yang bermakna. (Ali Al-Bayyûmî, Al-Hudâ lil insân ilâl Karîmil Mannân, hlm 79).


Persahabatan berbasis iman merupakan fondasi relasi yang paling kokoh dalam Islam, karena tidak hanya berorientasi pada kepentingan duniawi, tetapi juga mengarah pada keselamatan ukhrawi. Sahabat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, pola pikir, dan kualitas spiritual seseorang.

Persahabatan yang dilandasi nilai-nilai ketakwaan akan melahirkan saling nasihat, penguatan dalam kebaikan, serta bimbingan menuju jalan yang diridhai Allah Subhanallah Waatala. Sebaliknya, persahabatan yang jauh dari nilai iman berpotensi membawa dampak negatif, bahkan berujung pada penyesalan di akhirat.***
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar